innalilahi wa inna ilahai Raji'un Dalam sambutan KH Faizin Abu Khumairi atas nama mewakili keluarga almarhumah mengucapkan terimakasih kepada seluruh handai taulan yang sudah berkenan hadir dalam acara pemakaman ibu nyai Hajjah rohati ini. Dan Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat yg telah membantu dari segala aspek atas kelancaran prosesi pemakaman. Atas nama Shohibul musibah minta maaf dan doa restu semoga almarhumah termasuk min ahlil Jannah serta dari pihak Keluarga bisa mengamalkan amal keshobaran atas peristiwa yang tertimpa pada saat ini. Semoga semua amal diterima di sisi Allah dan Semua dosanya diampuni oleh Allah SWT Ibu nyai Hajjah rohati merupakan sosok yang Ta'at dan tekun ibadah, hal ini terbukti anak turunanya menjadi org yg Sholeh ada yang menjadi kyai dan Bu nyai. Semoga min ahlil Khoir dan diterima oleh Allah SWT.
*Puasa Sunnah Tarwiyah*
----------
Hukum puasa yang sering disebut dengan Hari Tarwiyah tersebut.
Ia menjelaskan topik ini merupakan bahasan klasik yang telah banyak dikupas dalam deretan kitab hadis ataupun
ulama-ulama terdahulu.
Para ulama sepakat, Puasa Tarwiyah hukumnya sunah. Bahkan, sangat dianjurkan berpuasa sejak hari pertama
Dzulhijjah hingga Hari Arafah, tepatnya 9 Dzulhijjah.
Dalam kitab Minah al-Jalil Syarh ‘Ala Mukhtashar al-Khalil yang bermazhab Maliki disebutkan hukum berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah hukumnya sunah, istilah puasa tersebut dikenal dengan sebutan
asyr Dzilhijjah.
Penegasan yang sama disampaikan dalam kedua kitab bercorak Mazhab Syafi’i, yakni al-Majmu’ Syarah Muhadzab dan Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifat Ma’ani al-Fadz al-Minhaj.
Hukum berpuasa Tarwiyah dan Arafah serta puasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah ialah sunah. Anjuran
berpuasa itu tidak terbatas kepada mereka yang tidak berhaji, tetapi juga berlaku pula bagi jamaah haji.
Mewakili Mazhab Hanbali, ada kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah. Kitab tersebut menegaskan, kesembilan hari
pertama Dzulhijjah (asyr Dzilhijjah) merupakan hari yang utama dan dimuliakan.
Pahala ibadah di sepanjang hari tersebut ditingkatkan karena itu hendaknya menambah frekuensi dan intensitas
beribadah pada hari-hari tersebut. Mazhab Zhahiri juga berpandangan sama, ini seperti ditegaskan oleh Ibnu Hazm
dalam kitab al-Muhalla.
Ibnu Hajar al-Asqalani menganalisis keutamaan rentetan hari di separuh pertama Dzulhijjah didasari satu fakta
yang sangat menarik, yaitu sejumlah ibadah yang pokok berkumpul menjadi satu pada hari tersebut, seperti
shalat, sedekah, dan manasik haji. “Keistimewaan itu tak ada di hari lain,” kata tokoh bermazhab Syafi’i
tersebut.
Beberapa hadis yang dijadikan sebagai dasar ketentuan hukum berpuasa pada sembilan hari pertama, termasuk Hari Tarwiyah danArafah, antara lain, hadis riwayat Ibnu Abbas.
----------
Hukum puasa yang sering disebut dengan Hari Tarwiyah tersebut.
Ia menjelaskan topik ini merupakan bahasan klasik yang telah banyak dikupas dalam deretan kitab hadis ataupun
ulama-ulama terdahulu.
Para ulama sepakat, Puasa Tarwiyah hukumnya sunah. Bahkan, sangat dianjurkan berpuasa sejak hari pertama
Dzulhijjah hingga Hari Arafah, tepatnya 9 Dzulhijjah.
Dalam kitab Minah al-Jalil Syarh ‘Ala Mukhtashar al-Khalil yang bermazhab Maliki disebutkan hukum berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah hukumnya sunah, istilah puasa tersebut dikenal dengan sebutan
asyr Dzilhijjah.
Penegasan yang sama disampaikan dalam kedua kitab bercorak Mazhab Syafi’i, yakni al-Majmu’ Syarah Muhadzab dan Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifat Ma’ani al-Fadz al-Minhaj.
Hukum berpuasa Tarwiyah dan Arafah serta puasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah ialah sunah. Anjuran
berpuasa itu tidak terbatas kepada mereka yang tidak berhaji, tetapi juga berlaku pula bagi jamaah haji.
Mewakili Mazhab Hanbali, ada kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah. Kitab tersebut menegaskan, kesembilan hari
pertama Dzulhijjah (asyr Dzilhijjah) merupakan hari yang utama dan dimuliakan.
Pahala ibadah di sepanjang hari tersebut ditingkatkan karena itu hendaknya menambah frekuensi dan intensitas
beribadah pada hari-hari tersebut. Mazhab Zhahiri juga berpandangan sama, ini seperti ditegaskan oleh Ibnu Hazm
dalam kitab al-Muhalla.
Ibnu Hajar al-Asqalani menganalisis keutamaan rentetan hari di separuh pertama Dzulhijjah didasari satu fakta
yang sangat menarik, yaitu sejumlah ibadah yang pokok berkumpul menjadi satu pada hari tersebut, seperti
shalat, sedekah, dan manasik haji. “Keistimewaan itu tak ada di hari lain,” kata tokoh bermazhab Syafi’i
tersebut.
Beberapa hadis yang dijadikan sebagai dasar ketentuan hukum berpuasa pada sembilan hari pertama, termasuk Hari Tarwiyah danArafah, antara lain, hadis riwayat Ibnu Abbas.
Comments
Post a Comment