Skip to main content

Mengenal sosok ibu nyai Hajjah rohati ibunda KH Abdul Hafidz ketua umum PD Rifa'iyah Pekalongan

innalilahi wa inna ilahai Raji'un Dalam sambutan KH Faizin Abu Khumairi atas nama mewakili keluarga almarhumah mengucapkan terimakasih kepada seluruh handai taulan yang sudah berkenan hadir dalam acara pemakaman ibu nyai Hajjah rohati ini. Dan Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat yg telah membantu dari segala aspek atas kelancaran prosesi pemakaman. Atas nama Shohibul musibah minta maaf dan doa restu semoga almarhumah termasuk min ahlil Jannah serta dari pihak Keluarga bisa mengamalkan amal keshobaran atas peristiwa yang tertimpa pada saat ini. Semoga semua amal diterima di sisi Allah dan Semua dosanya diampuni oleh Allah SWT Ibu nyai Hajjah rohati merupakan sosok yang Ta'at dan tekun ibadah, hal ini terbukti anak turunanya menjadi org yg Sholeh ada yang menjadi kyai dan Bu nyai. Semoga min ahlil Khoir dan diterima oleh Allah SWT.

jam'iyah rifa'iyah mau kemana?


Rifaiyah

Kata Rifaiyah diambil dari lafadz akhir nama seorang Kiai di Jawa Tengah yang bernama KH. Ahmad Rifa’i. Banyak orang mafhum bahwa KH. Ahmad Rifa’i pendakwah ulung, penulis produktif, dan meninggalkan banyak murid yang kemudian menyebar menjadi cikal bakal terbentuknya Jam’iyah Rifaiyah. Kemudian kalau disebut sebagai jamaah Rifaiyah yang dimaksud adalah santri, pengikut, murid KH. Ahmad Rifai. Dan kalau disebut sebagai Jam’iyah Rifaiyah cenderung merujuk kepada organisasi kemasyarakatan yang bernama Rifa’iyah.

Kita harus sadar bahwa Rifaiyah dan ormas-ormas lain mempunyai latar belakang berbeda. Sebelum ada organisasi rifaiyah telah menjadi jamaah. Jamaah ini adalah kesatuan perasaan dan nasib karena mereka adalah sesama murid yang mempertahankan ajaran-ajaran gurunya. Dan mereka secara alami telah melakukan kegiatan-kegiatan agama, pendidikan, sosial dan kebudayaan. Berbeda dengan Muhammadiyah yang ceplok lahir ke dunia dengan jabang bayi organisasi, kemudian menyusul bergabungnya orang-orang menjadi jamaahnya.

Rifaiyah sebagai organisasi lahir jauh sepeninggal guru besarnya KH. Ahmad Rifai. Kalau NU, Muhammadiyah dilahirkan dan dibentuk oleh ‘tokoh hulunya’ yang bernama KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan. Sedangkan Rifaiyah dilahirkan oleh muridnya santri KH. Ahmad Rifai, atau para penulis biasa menyebut sebagai ‘murid angkatan ke tiga.’nya KH. Ahmad Rifa’i. Dapat dimengerti bahwa Rifaiyah NU dan MD lahir karena kebutuhan manajemen kebersamaan dalam mengelola kebutuhan lahir batin manusia. Rifaiyah lahir juga sebagai bentuk persatuan untuk menghadapi klaim-klaim salah dari orang lain. Jamaah Rifaiyah butuh legalitas, butuh rumah organisasi Rifaiyah agar ia bisa bernaung tak diterpa angin yang tak bersahabat.

Surat Keputusan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah Nomor: 12 tahun 1981 tentang pelarangan pengamalan santri alim adil, nama lain dari jamaah Rifaiyah merupakan salah satu angin yang tak bersahabat itu. Tak hanya SK Kejaksaan Tinggi itu yang menjadi keresahan bersama warga Rifaiyah, tetapi persepsi dan penulisan salah tentang KH. Ahmad Rifai dalam serat cebolek, juga klaim yang terjadi di masyarakat, misalnya ungkapan-ungkapan“mbudiyah yen mati dadi celeng,” (orang Rifaiyah kalau meninggal dunia akan berubah menjadi babi.) “nduwur kudung ngisor warung” (kepalanya dibalut kerudung, tetapi kelaminnya dijual belikan layaknya warung). terus anggapan Rifaiyah bukan bagian dari Islam sempat  membuat gerah warga Rifaiyah. Pendiskreditan warga Rifaiyah ini juga sempat memantik konflik antar golongan, diantaranya terjadi di Meduri Tirto, Paesan Kedungwuni, Demak, Wonosobo.

Sering juga beberapa ulama mengklaim Rifaiyah Tarajumah sebagai gerakan sempalan, aliran sesat, kelompok yang perlu mendapatkan pembinaan dll. Menghadapi fitnah itu jamaah Rifaiyah mengonfirmasinya diantaranya melalui Seminar Nasional yang diselenggarakan di Balai Kajian Sejarah Yogyakarta, dan Festival Istiqlal 1991 di Masjid Istiqlal Jakarta.
Asbabul wurud kelahiran organisasi Rifaiyah berawal dari kegelisahan seorang pengikut juga sekaligus Kiai Rifaiyah di Pekalongan yang bernama Kiai Ahmad Nasihun Bin Abu Hasan. Suatu ketika Kiai Nasihun gelisah memikirkan ketiga anak didiknya yang beliau sebar ke tiga Pondok Pesantren. Pada bulan syawal, masa liburan pondok ketiga anak didik Kiai Kharismatik ini didudukkan bersama oleh sang Kiai. Kiai menanyakan perihal hukum rokok. Ketiganya menjawab dengan jawaban berbeda: Mubah, Haram dan makruh. Dengan perbedaan jawaban itu membuat pelopor penerbitan kitab tarajumah dengan mesin cetak ini gelisah. Ikhtilaf kalau tidak dikelola akan menjadi khilafiah. Perbedaan tanpa dimanajemen akan membuat perpecahan. Perbedaan akan berpotensi menjadi: walau seakan badan kita dekat, tapi hati kita berpecah belah (tahsabuhum jamian wa qulubuhum syatta).

Muncullah ide membuat syarikat, semacam yayasan yang bisa menyatukan potensi beragam masyarakat Rifaiyah. Ide itu digulirkan Kiai Ahmad Nasihun kepada sahabatnya sekaligus muridnya Kiai Hambali Tanahbaya Randudongkal Pemalang. Kiai Hambali merangkul teman seperjuangannya yang lebih tinggi mengenyam pendidikan formal, Kiai Tjarbin sekaligus diamanati untuk menjadi ketua Yayasan. Kemudian dibentuklah Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah pada 7 Mei 1965 M/ 7 Muharram 1384 H. Tahun sekitar 1965 dalam sejarah nasional dikenal sebagai tahun ‘geger PKI’ jadi kemungkinan berdirinya Yayasan bagian dari respon menghadapi penyusupan nilai-nilai komunisme. Hal ini perlu dilacak.
Tahun 1990 Dr. Kuntowijoyo mengulas tentang Serat Cebolek di Jurnal Ulumul Qur’an dengan tulisan berjudul “Serat Cebolek dan Mitos Tentang Pembangkangan Islam”. Kita tahu bahwa serat Cebolek adalah karya sejarah yang membohongi setiap pembacanya karena kepentingan kekuasaan. Serat Cebolek yang ditulis oleh Raden Pandji Djajasoebrata camat Magetan yang sedang berada di Semarang pada 1892. Serat Cebolek ini merujuk kepada naskah induknya milik Raden Adipati Pandji Soerdjakusuma, pensiunan bupati Semarang. Serat Cebolek berisi cerita perdebatan KH. Ahmad Rifai dengan Haji Pinang. Dalam perdebatan tentang fikih islam, diantaranya tentang jumatan KH. Ahmad Rifai mengalami kekalahan fatal bahkan digambarkan dalam serat fitnah ini sebagai “ayam jago licik yang tak berharga”.
Pemuatan tulisan Kuntowijoyo sempat meresahkan santri-santri tarajumah. Sehingga beberapa warga Rifaiyah mengirimkan tulisan konfirmasi ke Jurnal Ulumul Quran (UQ) yang waktu itu UQ dipimpin oleh Dawam Rahardjo. Menanggapi geliat warga Rifaiyah, jurnal Ulumul Quran yang diwakili oleh Saefuddin Simon bersama Masyarakat Sejarawan Indonesia Yogyakarta, Balai Kajian Sejarah mengajak warga Rifaiyah untuk menggagas Seminar Nasional Pembaharuan Islam Abad XIX Gerakan KH. Ahmad Rifai: Kesinambungan dan Perubahannya. Seminar nasional merupakan jendela bagi kajian KH. Ahmad Rifai dan Rifaiyah dilihat dan diteliti oleh insan akademik. Walaupun pra seminar beberapa sarjana juga sudah membuat karya tulis tentang KH. Ahmad Rifai dan Rifaiyah, seperti Sejarawan sekaligus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Adabi Darban, dll. Seminar Nasional juga mengusulkan agar segera mungkin warga Rifaiyah membentuk organisasi kemasyarakatan. Maka sebenarnya tak bisa diingkari motivator berdirinya Ormas Rifaiyah adalah para pakar Muhammadiyah juga. Karena pemakalah pada Seminar Nasional ada beberapa yang dari Muhammadiyah, walaupun mereka tidak menampakkah identitas golongannya sama sekali. Mereka semua berbicara atas nama ilmuwan.

Tindak lanjut dari Seminar Nasional, pada bulan desember 1991 dibentuklah organisasi kemasyarakatan Rifaiyah menggantikan Yayasan Pendidikan Islam Rifaiyah. Diantara deklarator berdirinya Organisasi Rifaiyah adalah KH. Ahmad Syadzirin Alm, KH. Mukhlisin Muzarie, dan siapa lagi ya....agaknya kopi ini kudu di sruput lagi...sruuuuup....
Bersambung

Sumber: Kliping-kliping Susunan KH. Ahmad Syadzirin Amin dari 1981 - 1991
Senin, 7 Rajab 1433 / 28 Mei 2012
Ahmad Saifullah Ahsa

Comments

Popular posts from this blog

Kepribadian Warga Rifa'iyah Part 1.

Kepribadian warga RIFA'IYAH Identitas atau kepribadian warga santri Rifa'iyah adalah kepribadian islami, bersumber pada Al qur'an hadis ijma' qiyas, atau kepribadian yang dianut oleh para pengikut ahlussunnah Wal jamaah, diantaranya : 1. Membiasakan menutup aurat bagi kaum laki-laki dan perempuan sejak masih kanak kanak sampai dewasa dst dengan kebiasaan : Bagi laki-laki diharuskan berpakaian yg menutup aurat minimal mulai dari pusat perut sampai kedua lututnya. Dan para anak perempuan diharuskan berpakaian yg menutup seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan dengan membiasakan memakai kain panjang dan kerudung. Perintah untuk membiasakan hal semacam itu dimaksudkan adalah mendidik kepada anak agar dikemudian hari menjadi orang yang ta'at dalam agama (menutup aurat) buka surat an nur ayat 31. Selain itu bertujuan melestarikan kebudayaan Jawa yang diwariskan oleh nenek moyangnya yg mukmin muslim itu. 2. Setiap menyelenggarakan pengajian, pe...

Kepribadian Warga Rifa'iyah Part 3.

13. Menurut kepribadian warga RIFA'IYAH dalam membacakan talqin, menggunakan kitab minwaril himmah karya hadratusysyaikh haji ahmad rifa'i. 14. Setelah itu mengadakan selamatan satu hari sampai 7 hari, 40 hari, 100 hari, 350 hari, haul, 1000 hari dengan membaca kitab tarajumah sekoras atau setengah koras, yasinan, tahlil, pahalanya diniatkan untuk mayit. Hal ini berdasarkan fatwa syekh ahmad rifa'i yg tertera dalam kitab abyanal hawaij jilid 4.korasan 55. 15. Mengadakan ziarah qubur. ( lihat kitab adabuz ziarah karya hadratusysyaikh haji ahmad rifa'i) 16. Apabila mempunyai hajat, memohon langsung pada Allah atau bertawassul pada nabi dan rasul, sahabat, tabi'in, waliyullah, orang sholeh. 17. Melakukan istighosah 18. Mengharapkan barakah 19. Mengadakan isra mi'raj dan membacakan kitab arjo karangan hadratusysyaikh haji ahmad rifa'i. 20. Mengadakan maulid nabi dg membacakan kitab2 maulid 21. Silaturrohim dan Halal Bi halal 22 . memberikan sebagian h...
OLOK-OLOK SUFI.... terhadap mujahidin PEMBURU SURGA Rabiah al-Adawiyah, sufi perempuan pengusung mazhab cinta, pernah menggugat surga. Dia memproklamirkan diri sebagai seorang yang tidak butuh surga, yang dibutuhkan olehnya adalah PENERIMAAN SANG KEKASIH ATAS CINTANYA dan yang diharapkan olehnya adalah cinta sang kekasih kepadanya. Siapakah sang kekasih Rabiah? Sang kekasihnya adalah “Allah!” Lalu, para ulama mencoba tahu apa yang dikehendai Rabiah, menampik surga dan berharap cintanya Allah saja. Sebagian ulama husnu al-dzhan (berbaik sangka) bahwa ucapan Rabiah adalah sejenis syathahat, seorang sufi yang sedang ekstase dan mambok kepayang pada kekasihnya, Allah, sehingga melupakan dan menghapus selain-Nya. Namun, ada yang menarik... dalam kitab “al-Hikmah al-Khalidah”, karya Ibnu Miskawaih (teosuf Islam klasik setelah Rabiah). Dikatakan dalam kitab itu; “Surga adalah hijab (penghalang) yang paling besar bagi ‘arifin (para bijak bestari).” Ditanya kenapa? Ibnu Miskawaih menjawa...