innalilahi wa inna ilahai Raji'un Dalam sambutan KH Faizin Abu Khumairi atas nama mewakili keluarga almarhumah mengucapkan terimakasih kepada seluruh handai taulan yang sudah berkenan hadir dalam acara pemakaman ibu nyai Hajjah rohati ini. Dan Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat yg telah membantu dari segala aspek atas kelancaran prosesi pemakaman. Atas nama Shohibul musibah minta maaf dan doa restu semoga almarhumah termasuk min ahlil Jannah serta dari pihak Keluarga bisa mengamalkan amal keshobaran atas peristiwa yang tertimpa pada saat ini. Semoga semua amal diterima di sisi Allah dan Semua dosanya diampuni oleh Allah SWT Ibu nyai Hajjah rohati merupakan sosok yang Ta'at dan tekun ibadah, hal ini terbukti anak turunanya menjadi org yg Sholeh ada yang menjadi kyai dan Bu nyai. Semoga min ahlil Khoir dan diterima oleh Allah SWT.
Masalah
Sifat Tuhan Menurut Syekh Ahmad Rifa’i
Pembicara’an
mengenai sifat tuhan sebenarnya merupakan perso’alan klasik ketika penerapan
sifat bagi Allah menimbulkan keberatan dari beberapa pihak. Diantara
permasalhan yang muncul adalah adanya anggapan bahwa tuhan tidak boleh di
sifati karna akan mengandung dualisme.dengan kata lain, akan menimbulkan kesan
berbilangnya yang qodim (plurality of eternals) dan ini akan mengakibatkan ke
esa’an tuhan menjadi terganggu. Kalngan mu’tazilah semisal Wasil bin Atho’
menyatakan bahwa tuhan tidak dapat dishifati dengan sifat yang lepas dari
esensi Nya. Berkuasa,berkehendak,dan hidup termasuk esensi Tuhan.[1]
Pandangan seperti ini memperlihatkan adanya kontradiksi antara penuturan wahyu
dengan kesimpulan akal. Ketika wahyu mengatakan bahwa Allah maha kuasa
(qodir),mahatau,maha mendengar, maha melihat,dll, akal berkesimpulan bahwa
sifat tersebut harus melekat pada yang di sifati dilihat dari segi waktu. Karna
sifat mahatau itu harus ada sejak qodim, maka akan melibatkan bahwa Allah tidak
Esa lagi. Penyelesaian yang dilakukan mu’tazilah semacam ini mendapat reaksi
dari Al- Asy’ari, sebagaimana di kemukakan dalam kitab al-Luma’, tuhan memiliki
sifat-sifat yang berdiri sendiri diluar esensiNya (kebalikan dari pandangan
Mu’tazilah).dasar yang dipakainya adalah beberapa firman Allah seperti
:”.......dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tiada dapat
menghukum sesuatu apapun. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Melihat.[2]
Terhadap ayat
diatas, Ahmad Rifa’i tidak mau menggunakan penakwilan dalam rangka menyesuaikan
dengan kesimpulan akal. Seandainya menggunakan penalaran, ia melakukan dengan
sederhana sekali seperti ketika memberikan alasan kenapa Tuhan memiliki sifat
Mahatau. Beliau menyatakan seandainya Tuhan tidak memiliki sifat Mahatau maka yang
ada adalah sifat sebaliknya, yakni tidak tau. Hal ini adalah mustahil bagi
Tuhan.[3]
Al-Asy’ari memang mengakui adanya sifat tuhan, tetapi sifat tersebut berbeda
dengan sifat yang melekat pada makhluk Nya dan Tuhan tidak dapat di serupakan dengan
apapun dalam rangka tetap mempertahankan keesaan Nya.
Jika tokoh
Ahlussunah semisal al-juwaini yang hidup sebelumnya (1028-1085 M) belum
membicarakan perso’alan sifat Allah secara rinci,maka Al Ghozali yang hidup
pada abad 11 dan 12telah memulai berbicara masalah sifat secara rinci dan
teknis. Sebagaimana dijelaskan oleh As-Sanusi (1427-1490 M) yang menjelaskan
sifat Allah secara panjang lebar beserta dalil nya. Menurut nya Allah memiliki
sifat wajib 20,muhal 20, jaiz 1.[4]
Pandangan
Ahmad Rifa’i dalam perso’alan sifat ini juga menekankan penjelasn yang bersifat
teknis. Seperti halnya pandangan Ibrahim Al-bajuri (guru Ahmad Rifa’i), Ahmad
Rifa’i menjelaskan sifat-sifat Allah bersama-sama dengan sifat rasul yang harus
diyakini oleh setiap mukallaf bersifat 50 sifat. Perso’alan sifat Allah ini
dijelaskan panjang lebar dalam kitabnya Ri’ayah Al-himmah.
Jika Ahmad
Rifa’i mewajibkan mukallaf untuk mengetahui sifat 50, maka hal ini berhubungan
dengan 2 kalimat syahadat yang merupakan rukun satu-satunya untuk dapat menjadi
islam. Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa keyakinan kepada sifat Allah dan
Rasul Nya disebut I’tiqod Uluhiyah dan Nabawiyah. Hal ini dinyatakan dalam
kitabnya :
|
I’tiqod Uluhiyah kinawaruhan
Iku patang puluh siji wilangan
Yoiku sifat rong puluh kawajiban
Lan muhale rong puluh lelawan
Ikulah dadi patang puluh kawilang
jaize Allah iku sawiji wenang
I’tiqod Nabawiyah songo wewilangan
Ikulah dadi seket kabeh kumpulan
Gunggunge manjing uluhiyah lan nubuwiyahan
Iku weruho ing loro kalimat sebutan
|
I’tiqod Uluhiyah telah diketahui
Yaitu empat puluh satu bilangan
Yaitu sifat wajib dua puluh
Dan sifat muhal dua puluh
Itu menjadi empat puluh bilangan
Jaiznya Allah itu satu yang artinya boleh
I’tiqod Nabawiyah sembilan bilangan
Itulah menjadi lima puluh semuanya
Sebutannya menjadi uluhiyyah dan nubuwwiyah
Ketahuilah pada dua kalimat syahadat sebutan[5]
|
Pemikiran
Ahmad Rifa’i dalam perso’alan sifat Allah merupakan bagian dari mata rantai
penyebaran Ahlussunah sebagaimana di perlihatkan oleh para pelanjut Asy-Ariyah.
Hanya saja Ahmad Rifa’i memberi sumbangan dalam bentuk sosialisasi pada
masyarakat Jawa abd 19 yang amat memerlukan penjelasan Agama dengan bahasa
yangmudah dimengerti oleh mereka. Selain dari itu Beliau berusaha mengkaitkan
perso’alan sifat ini dengan syahadat yang merupakan satu-satunya rukun islam
dengan maksud agar supanya memandang bahwa syahadat itu sebagai unsur yang amat
asasi dalam Islam.
[1] Mir
Valiudin,”mu’tazilism”, A History of muslim philosophy, M. M. Sharif,es,
Ottoharazowitz, Wiesbaden, 1963, hlm. 205.
[4] Muhammad Ad-Dasuki,
Hasyiyah Ad-dasuki ‘ala Um al-Barahim, Maktabah Toha putra,Semarang, hlm,
15-30.

Comments
Post a Comment