Skip to main content

Mengenal sosok ibu nyai Hajjah rohati ibunda KH Abdul Hafidz ketua umum PD Rifa'iyah Pekalongan

innalilahi wa inna ilahai Raji'un Dalam sambutan KH Faizin Abu Khumairi atas nama mewakili keluarga almarhumah mengucapkan terimakasih kepada seluruh handai taulan yang sudah berkenan hadir dalam acara pemakaman ibu nyai Hajjah rohati ini. Dan Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat yg telah membantu dari segala aspek atas kelancaran prosesi pemakaman. Atas nama Shohibul musibah minta maaf dan doa restu semoga almarhumah termasuk min ahlil Jannah serta dari pihak Keluarga bisa mengamalkan amal keshobaran atas peristiwa yang tertimpa pada saat ini. Semoga semua amal diterima di sisi Allah dan Semua dosanya diampuni oleh Allah SWT Ibu nyai Hajjah rohati merupakan sosok yang Ta'at dan tekun ibadah, hal ini terbukti anak turunanya menjadi org yg Sholeh ada yang menjadi kyai dan Bu nyai. Semoga min ahlil Khoir dan diterima oleh Allah SWT.

Riwayat hidup Hadratussyaikh Haji Ahmad Rifa'i



I.                   RIWAYAT HIDUP K.H. AHMAD RIFA’I
K.H Ahmad Rifa’I bin Muhammad Marhum lahir pada hari Kamis tanggal 09 Muharram 1200 H bertepatan dengan tahun 1786 Masehi, di Desa Tempuran Kecamatan Kendal Kabupaten Kendal Karesidenan Semarang Propinsi Jawa Tengah. Ayahnya seorang penghulu di Kendal bernama Muhammad Marhum bin Abi Sujak Wijaya alias Raden Sucowijoyo, Ibu bernama Siti Rochmah. Ahmad Rifa’I adalah putra ke delapan dari delapan bersaudara. Pada usia tujuh tahun, Ahmad Rifa’i ditinggal oleh kedua orang tuanya sehingga ikut di rumah kakak kandungnya bernama Nyai Rajiyah binti Muhammad Marhum yang tinggal bersama suaminya K.H. Asy’ari, salah seorang pendiri pondok pesantren Kaliwungu Kabupaten Kendal. Ditempat ini beliau belajar pokok-pokok ilmu agama dan berbagai cabangnya.
Sejak masa mudanya Ahmad Rifa’I melakukan dakwah didaerah Kendal dan sekitarnya. Dalam dakwah tidak hanya menyampaikan masalah-masalah agama, tetapi juga masalah-masalah social, ekonomi dan politik, terutama menanamkan jiwa patriotik dan menanamkan anti kolonial.
Oleh karena itu beberapa kali beliau beberapa kali diperingatkan dan beberapa kali  ditangkap dan dipenjarakan seperti di Kendal, di Semarang dan di Wonosobo.
            Setelah keluar dari penjara, Ahmad Rifa’I pada tahun 1225 H menunaikan Ibadah Haji dan bermukim di Mekkah selama 8 tahun untuk mendalami ilmu agama kemudian meneruskan ke Mesir selama 12 tahun. Diantara guru-guru beliau ialah Syaikh Al Barowi, Syaikh Ibrohim Al Bajuri, Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al Jaisi, Syaikh Abdurrahman, Syaikh Abu Ubaidah dan Syaikh Usman.
            Pada tahun 1252 H Ahmad Rifa’I kembali ke pesantren kakak iparnya di Kaliwungu Kabupaten Kendal saat itu beliau berumur 51 tahun. Di Kaliwungu Ahmad Rifa’I membantu kakak iparnya mengajar di pondok pesantrennya. Sebagai ustadz yang baru dating dari Timur Tengah, H. Ahmad Rifa’I mendapat perhatian dari para santrinya.
Disamping mengajarkan ilmu-ilmu agama, H. Ahmad Rifa’I juga menyampaikan masalah-masalah social dan politik yang dihadapi oleh masyarakat, beliau tidak segan-segan mengkritik para penghulu dan ki demang yang menjadi kaki tangan  pemerintah Belanda. Karena kritik yang tajam maka penghulu Kendal di Kaliwungu dan para pejabat sekitarnya mengadakan reaksi melaporkan H. Ahmad Rifa’I kepada pemerintah Belanda dan meminta agar di tangkap dengan tuduhan membuat kerusuhan. Pemerintah Belanda menangkap dan memeriksanya sehubungan dengan laporan tersebut. Setelah dibebeaskan H. Ahmad Rifa’I merasa sedih karena dalam keadaan berduka diasingkan dari keluarga dan para santrinya . untuk mengurangi kesedihan itu, selang beberapa tahun, H. Ahmad Rifa’I menikah dengan janda Demang Kalisalak bernama Nyai Sujinah.
            Di Kalisalak, awalnya K.H. Ahmad Rifa’I menyelenggarakan pengajian untuk anak-anak dan orang dewasa. Karena metode pengajarannya sangat menarik, yaitu dengan menggunakan Bahasa Jawa dalam bentuk nadhom, maka santrinya makin bertambah banyak. Untuk memfasilitasi minat santri  yang ingin tinggal dekat Kyai serta untuk mewujudkan cita-cita melestarikan pendidikan dan dakwah islamiyah, maka K.H. Ahmad Rifa’I mendirikan Masjid dan pondok pesantren di Kalisalak.
            Di dalam pondok pesantren yang terletak ditempat terpencil dan jauh dari pengawasan pemerintah Hindia Belanda, K.H. Ahmad Rifa’I dapat mengkader santri-santrinya. Kader beliau yang berhasil mengajarkan islam adalah Abdul Hamid Sepuran Wonosobo, Abu Hasan Kepil Wonosobo, Abdul Aziz  Sepuran Wonosobo, Ishaq Sepuran Wonosobo, Abdul Hadi Kretek Wonosobo, Tuba  Patebon Kendal, Ilham Kali Pucang Batang, Imam Puro Limpung Batang, Chasan Tiro Pekalongan, Abu Hasan Kedungwuni Pekalongan, Idris bin Ilham Indramayu Cirebon, Abdul Manan Tepuro Purwodadi, Abdul Qohar Bekingkin Kendal dan Imam Tani Kutowinangun Kebumen.
            Disamping mengajar Ilmu, K.H. Ahmad Rifa’I juga tekun menulis kitab dengan penulisan Pegon (tulisan arab dengan bahasa jawa). Kitab-kitab beliau dikenal dengan klitab Tarajumah yang artinya terjemahan. Kitab-kitab Tarajumah karya K.H. Ahmad Rifa’I berjumlah lebih dari 60 buah judul. Kitab-kitab Tarajumah tersebut sebagian besar berbentuk nadhom puisi tembang jawa, dan sebagian lagi berbentuk netseratan prosa isinya mencangkup ilmu Ushuluddin, Ilmu Fiqih, Ilmu Tasawuf dan beberapa  protes terhadap pemerintah Kolonial Belanda serta kritik terhadap pamong praja tradisional yang membantu Kolonial Belanda.  K.H. Ahmad Rifa’I juga menulis sebanyak 500 judul Tanbih serta beberapa Nadham do’a.

Comments

Popular posts from this blog

Kepribadian Warga Rifa'iyah Part 1.

Kepribadian warga RIFA'IYAH Identitas atau kepribadian warga santri Rifa'iyah adalah kepribadian islami, bersumber pada Al qur'an hadis ijma' qiyas, atau kepribadian yang dianut oleh para pengikut ahlussunnah Wal jamaah, diantaranya : 1. Membiasakan menutup aurat bagi kaum laki-laki dan perempuan sejak masih kanak kanak sampai dewasa dst dengan kebiasaan : Bagi laki-laki diharuskan berpakaian yg menutup aurat minimal mulai dari pusat perut sampai kedua lututnya. Dan para anak perempuan diharuskan berpakaian yg menutup seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan dengan membiasakan memakai kain panjang dan kerudung. Perintah untuk membiasakan hal semacam itu dimaksudkan adalah mendidik kepada anak agar dikemudian hari menjadi orang yang ta'at dalam agama (menutup aurat) buka surat an nur ayat 31. Selain itu bertujuan melestarikan kebudayaan Jawa yang diwariskan oleh nenek moyangnya yg mukmin muslim itu. 2. Setiap menyelenggarakan pengajian, pe...

Kepribadian Warga Rifa'iyah Part 3.

13. Menurut kepribadian warga RIFA'IYAH dalam membacakan talqin, menggunakan kitab minwaril himmah karya hadratusysyaikh haji ahmad rifa'i. 14. Setelah itu mengadakan selamatan satu hari sampai 7 hari, 40 hari, 100 hari, 350 hari, haul, 1000 hari dengan membaca kitab tarajumah sekoras atau setengah koras, yasinan, tahlil, pahalanya diniatkan untuk mayit. Hal ini berdasarkan fatwa syekh ahmad rifa'i yg tertera dalam kitab abyanal hawaij jilid 4.korasan 55. 15. Mengadakan ziarah qubur. ( lihat kitab adabuz ziarah karya hadratusysyaikh haji ahmad rifa'i) 16. Apabila mempunyai hajat, memohon langsung pada Allah atau bertawassul pada nabi dan rasul, sahabat, tabi'in, waliyullah, orang sholeh. 17. Melakukan istighosah 18. Mengharapkan barakah 19. Mengadakan isra mi'raj dan membacakan kitab arjo karangan hadratusysyaikh haji ahmad rifa'i. 20. Mengadakan maulid nabi dg membacakan kitab2 maulid 21. Silaturrohim dan Halal Bi halal 22 . memberikan sebagian h...
OLOK-OLOK SUFI.... terhadap mujahidin PEMBURU SURGA Rabiah al-Adawiyah, sufi perempuan pengusung mazhab cinta, pernah menggugat surga. Dia memproklamirkan diri sebagai seorang yang tidak butuh surga, yang dibutuhkan olehnya adalah PENERIMAAN SANG KEKASIH ATAS CINTANYA dan yang diharapkan olehnya adalah cinta sang kekasih kepadanya. Siapakah sang kekasih Rabiah? Sang kekasihnya adalah “Allah!” Lalu, para ulama mencoba tahu apa yang dikehendai Rabiah, menampik surga dan berharap cintanya Allah saja. Sebagian ulama husnu al-dzhan (berbaik sangka) bahwa ucapan Rabiah adalah sejenis syathahat, seorang sufi yang sedang ekstase dan mambok kepayang pada kekasihnya, Allah, sehingga melupakan dan menghapus selain-Nya. Namun, ada yang menarik... dalam kitab “al-Hikmah al-Khalidah”, karya Ibnu Miskawaih (teosuf Islam klasik setelah Rabiah). Dikatakan dalam kitab itu; “Surga adalah hijab (penghalang) yang paling besar bagi ‘arifin (para bijak bestari).” Ditanya kenapa? Ibnu Miskawaih menjawa...