Skip to main content

Mengenal sosok ibu nyai Hajjah rohati ibunda KH Abdul Hafidz ketua umum PD Rifa'iyah Pekalongan

innalilahi wa inna ilahai Raji'un Dalam sambutan KH Faizin Abu Khumairi atas nama mewakili keluarga almarhumah mengucapkan terimakasih kepada seluruh handai taulan yang sudah berkenan hadir dalam acara pemakaman ibu nyai Hajjah rohati ini. Dan Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat yg telah membantu dari segala aspek atas kelancaran prosesi pemakaman. Atas nama Shohibul musibah minta maaf dan doa restu semoga almarhumah termasuk min ahlil Jannah serta dari pihak Keluarga bisa mengamalkan amal keshobaran atas peristiwa yang tertimpa pada saat ini. Semoga semua amal diterima di sisi Allah dan Semua dosanya diampuni oleh Allah SWT Ibu nyai Hajjah rohati merupakan sosok yang Ta'at dan tekun ibadah, hal ini terbukti anak turunanya menjadi org yg Sholeh ada yang menjadi kyai dan Bu nyai. Semoga min ahlil Khoir dan diterima oleh Allah SWT.

Kojahan Batik

Pada helat peringatan hari jadi ke 10 tahun Museum Batik yang digelar pada hari Jumat, 29 Juli 2016, Omah Sinau SOGAN didaulat untuk menggelar agenda diskusi budaya yang bertema tentang batik. Dalam helat itu, dua orang narasumber dihadirkan. Pertama, Arief Dirhamzah, seorang jurnalis sekaligus pemerhati sejarah kota Pekalongan. Kedua, Dudung Alisyahbana, seorang seniman batik yang telah banyak menciptakan karya-karya batik yang monumental.
Dirham, sapaan akrab Arief Dirhamzah, dalam kesempatan itu memaparkan seluk-beluk sejarah batik. Menurutnya, sejarah batik pada dasarnya merupakan sejarah yang sangat panjang. Ada kemungkinan, batik telah berkembang sejak sebelum era kerajaan Majapahit. Bahkan, bisa jadi asal mula batik dimulai dari era wangsa Syailendra yang memimpin kerajaan Mataram Hindu. Kemudian, mengalami perkembangannya di era Kerajaan Sriwijaya.
Menurut Dirham, wilayah Pekalongan di masa lampau merupakan wilayah kekuasaan Sriwijaya. Hal ini dibuktikan dengan penemuan prasasti Sojomerto yang ada di desa Reban, Kabupaten Batang. Sementara dugaan bahwa batik telah dikembangkan pada masa itu juga dibuktikan melalui beberapa arca yang ditemukan di wilayah Pekalongan purba. Ada dugaan bahwa salah satu yang mendukung dugaan tersebut adalah penggunaan kain gringsingan, yaitu sejenis kain yang diolah dengan tangan. Kain ini diyakini sebagai kain yang dikenakan oleh Dewa Indra. Motif pada kain ini sangat beragam. Hanya saja dalam hal pewarnaan, kain gringsing ini hanya menggunakan komposisi tiga warna, yaitu merah, kuning, dan hitam.
Bisa jadi, menurut Dirham, kain gringsingan ini yang menjadi inspirasi awal pembuatan batik. Tetapi, hal itu masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Sebab, selama ini, berbagai kemungkinan tersebut baru sebatas dugaan-dugaan sementara. Minimnya bukti-bukti sejarah dan minimnya penelitian membuat dugaan-dugaan tersebut tidak terlalu kuat. Dia menuturkan, selama ini penelitian mengenai batik baru sebatas pada keragaman corak, motif, komposisi, maupun teknik pembuatannya. Itupun lebih banyak dilakukan oleh para pakar dari mancanegara. Sementara, buku-buku tentang batik yang ditulis oleh bangsa sendiri masih sangat terbatas jumlahnya.
Hingga saat ini, penulisan mengenai sejarah batik masih sebatas pada upaya penelusuran sejarah batik yang dimulai pada era Mataram Islam. Pada perkembangan batik pesisir Pekalongan khususnya, dimulai setelah perpecahan Mataram yang juga ditunggangi oleh kepentingan VOC. Lewat peristiwa itu, eksodus besar-besaran mulai berlangsung, terutama sekali pada era Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Eksodus ini menyebabkan keluarga-keluarga (ningrat) dari kalangan keluarga raja tinggal dan menetap di luar keraton. Sebagian menyebar ke wilayah jawa bagian timur dan sebagian jawa bagian barat, salah satunya adalah Pekalongan.
Di lain hal, berdasarkan beberapa referensi dari mancanegara itu pula, Dirhamzah mengungkapkan bahwa era perkembangan batik baru mencapai kejayaan pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Batik, pada masa itu mengalami perubahan besar. Dari yang semula menjadi tradisi yang secara simbolik dimaknai sebagai budaya, batik berubah wajahnya menjadi industri.
Adalah mereka, terutama orang-orang Eropa dan para pendatang dari negeri Tirai Bambu dan negeri Padang Pasir yang telah ikut merayakan industrialisasi perbatikan. Salah satu nama kesohor yang disebut-sebut Dirham dalam paparannya adalah Eliza Charlotte Van Zuylen (1863 – 1947). Perempuan berkebangsaan Belanda ini merupakan salah seorang maestro batik di Indonesia. 
Umumnya, motif batik karya-karya Van Zuylen berupa buket bunga. Secara luas, karyanya dikenal dengan Van Zuylen Bouquet.
Diakui atau tidak, melalui batik karya van Zuylen batik Belanda pada era itu mengalami masa puncaknya. Hal ini disebabkan oleh tingkat kerumitan karya van Zuylen yang paling tinggi. Ragam hias pada batik van Zuylen menampilkan detil yang kompleks. Sementara komposisi warnyanya juga beragam. Dalam hal ini, Eliza van Zuylen melakukan berbagai pengembangan motif yang mengawinkan buketan dengan unsur-unsur kebudayaan Cina yang tampak melalui corak teratai, burung merak dan detail isen-isen yang lebih rumit pada pola buketannya.
Pada masa ini, industri batik telah mendorong pula penggunaan zat pewarna sintetis. Hal ini dilakukan agar warna yang dihasilkan lebih beragam. Teknik colet dan celup dalam proses pewarnaan juga mulai gencar dilakukan.
Tentu, nama van Zuylen bukan satu-satunya. Banyak nama lain yang juga andil dalam mengembangkan batik sebagai industri. Sayang, dalam perkembangannya, industrialisasi batik yang dilakukan para pengusaha asing lambat laun justru menimbulkan dampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat pribumi. Hal ini mendorong para pengusaha batik pribumi untuk memanfaatkan batik sebagai alat untuk melawan penjajahan.
Dari sini, muncul sejumlah nama tokoh-tokoh Pekalongan, di antaranya Mufti, Mastur, Ridwan, Zen Muhammad, Aman jahri dan lainnya. Melalui usaha mereka mendirikan koperasi, industri Batik Pekalongan yang dikelola oleh para pribumi mampu menyokong upaya perbaikan ekonomi dan perlawanan terhadap penjajah.
Meski demikian, ada satu fenomena menarik pada era perlawanan penjajahan tersebut. Fenomena itu adalah perlawanan yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Rifa’i yang menjadi cikal bakal lahirnya Rifa’iyah. Dalam hal ini, ulama besar K.H. Ahmad Rifa’i memperlakukan batik sebagai bagian dari denyut nadi perlawanan terhadap penjajahan yang dilandasi oleh keimanan. K.H. Ahmad Rifa’i tidak hanya memaknai batik sebagai produk budaya, melainkan pula sebagai salah satu media dalam berdakwah serta sebagai aktualisasi nilai keimanan. Melalui cara itu pula, batik kemudian menjadi sarana ampuh di dalam menyebarluaskan pemahaman nilai-nilai kesetaraan dalam pandangan agama sebagai dasar untuk melawan penjajahan.
Pemikiran K.H. Ahmad Rifa’i ini selanjutnya diungkap dengan gaya yang santai oleh Dudung Alisyahbana. Pada kesempatan itu, Dudung yang mendapat giliran kedua memaparkan pemaknaan batik dari sisi filosofis. Menurutnya, ada kekeliruan pandangan dari masyarakat pembatik masa kini yang memandang batik hanya sebagai industri, sebagai komoditas. Pandangan ini membuat batik kehilangan nilai historis, nilai kemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Membatik, menurutnya seperti orang yang tengah melakukan ritual ibadah. Batik adalah persembahan, baik kepada alam semesta maupun kepada Gusti Allah. Kepada alam semesta, batik menjadi ungkapan rasa terima kasih seorang pembatik kepada alam semesta yang telah memberikan banyak hal bagi pemenuhan kebutuhan manusia serta kekaguman atas keindahan alam semesta. Kepada Gusti Allah, batik dimaknai sebagai rasa syukur sekaligus sebagai ikrar, bahwa ia akan menjaga alam sebaik-baiknya demi terwujudnya keseimbangan, keselarasan, dan keberlangsungan hidup yang lebih baik. Melalui cara itu pula, batik dimaknai pula sebagai usaha manusia mendidik dirinya sendiri agar lebih mengenali diri dan mengenali Tuhannya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa membatik merupakan sebuah tahapan yang diyakini mampu membuat setiap pembatik menuju pada hakikat dan makrifat.
Seorang pembatik, tuturnya, semestinya menjadi orang yang memiliki kesadaran tinggi. Tidak sebatas pada kesadaran ekonomi, melainkan pula harus ditopang pula dengan kesadaran estetika, kesadaran etika, kesadaran ekologi, kesadaran sosial, kesadaran budaya, yang kesemuanya menjadi bagian-bagian kecil dalam kesadaran beragama. Dengan kata lain, seorang pembatik, mestinya seorang pribadi yang sudah tuntas dengan dirinya sendiri, sehingga pada saat ia membuat batik, ia akan menggunakan batiknya sebagai sarana beribadah.
Dia mencontohkan, dalam berbagai kasus, proses pembuatan batik yang mula-mula dilakukan para raja adalah bagian dari cara sang raja memahami makna kehadiran Tuhan di tengah-tengah mikro kosmos dan makro kosmos. Oleh sebab itu, batik yang dibikinnya menjadi simbol-simbol yang memiliki makna khusus. Sayangnya, dalam studi batik yang dilakukan oleh para pakar masa kini cenderung terjebak pada pemikiran Barat yang cenderung materialistis. Makna batik hanya dilihat dari aspek materinya. Sementara kedalaman makna, nyaris tak tersentuh.
Pemikiran Barat, menurut Dudung, tidak mampu menjangkau kedalaman makna yang dekat dengan unsur-unsur Ilahiah. Oleh sebab itu, mestinya studi batik di Nusantara ini lebih diperkaya dengan pemikiran-pemikiran yang mampu menembus dimensi religi.
“Sudah saatnya sekarang, pemikiran Barat ditinggalkan, cukup diletakkan saja di teras rumah agar kita tak terlalu tersesat oleh pemikiran mereka yang tak mau bersentuhan dengan Ilahi,” pungkasnya.

Dalam rangkaian helat Kojahan Batik yang bernuansa cinta itu juga ditampilkan beberapa penampilan musik puisi yang dilantunkan oleh pegiat Omah Sinau SOGAN serta tampil pula pentas komedi tunggal yang dilakonkan oleh para pegiat Stand Up Comedy Pekalongan. Lewat sajian itu, hadirin pun merasa terhibur. Selain itu, juga disajikan makanan tradisional khas Pekalongan.
Sumber 

Comments

Popular posts from this blog

Kepribadian Warga Rifa'iyah Part 1.

Kepribadian warga RIFA'IYAH Identitas atau kepribadian warga santri Rifa'iyah adalah kepribadian islami, bersumber pada Al qur'an hadis ijma' qiyas, atau kepribadian yang dianut oleh para pengikut ahlussunnah Wal jamaah, diantaranya : 1. Membiasakan menutup aurat bagi kaum laki-laki dan perempuan sejak masih kanak kanak sampai dewasa dst dengan kebiasaan : Bagi laki-laki diharuskan berpakaian yg menutup aurat minimal mulai dari pusat perut sampai kedua lututnya. Dan para anak perempuan diharuskan berpakaian yg menutup seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan dengan membiasakan memakai kain panjang dan kerudung. Perintah untuk membiasakan hal semacam itu dimaksudkan adalah mendidik kepada anak agar dikemudian hari menjadi orang yang ta'at dalam agama (menutup aurat) buka surat an nur ayat 31. Selain itu bertujuan melestarikan kebudayaan Jawa yang diwariskan oleh nenek moyangnya yg mukmin muslim itu. 2. Setiap menyelenggarakan pengajian, pe...

Kepribadian Warga Rifa'iyah Part 3.

13. Menurut kepribadian warga RIFA'IYAH dalam membacakan talqin, menggunakan kitab minwaril himmah karya hadratusysyaikh haji ahmad rifa'i. 14. Setelah itu mengadakan selamatan satu hari sampai 7 hari, 40 hari, 100 hari, 350 hari, haul, 1000 hari dengan membaca kitab tarajumah sekoras atau setengah koras, yasinan, tahlil, pahalanya diniatkan untuk mayit. Hal ini berdasarkan fatwa syekh ahmad rifa'i yg tertera dalam kitab abyanal hawaij jilid 4.korasan 55. 15. Mengadakan ziarah qubur. ( lihat kitab adabuz ziarah karya hadratusysyaikh haji ahmad rifa'i) 16. Apabila mempunyai hajat, memohon langsung pada Allah atau bertawassul pada nabi dan rasul, sahabat, tabi'in, waliyullah, orang sholeh. 17. Melakukan istighosah 18. Mengharapkan barakah 19. Mengadakan isra mi'raj dan membacakan kitab arjo karangan hadratusysyaikh haji ahmad rifa'i. 20. Mengadakan maulid nabi dg membacakan kitab2 maulid 21. Silaturrohim dan Halal Bi halal 22 . memberikan sebagian h...
OLOK-OLOK SUFI.... terhadap mujahidin PEMBURU SURGA Rabiah al-Adawiyah, sufi perempuan pengusung mazhab cinta, pernah menggugat surga. Dia memproklamirkan diri sebagai seorang yang tidak butuh surga, yang dibutuhkan olehnya adalah PENERIMAAN SANG KEKASIH ATAS CINTANYA dan yang diharapkan olehnya adalah cinta sang kekasih kepadanya. Siapakah sang kekasih Rabiah? Sang kekasihnya adalah “Allah!” Lalu, para ulama mencoba tahu apa yang dikehendai Rabiah, menampik surga dan berharap cintanya Allah saja. Sebagian ulama husnu al-dzhan (berbaik sangka) bahwa ucapan Rabiah adalah sejenis syathahat, seorang sufi yang sedang ekstase dan mambok kepayang pada kekasihnya, Allah, sehingga melupakan dan menghapus selain-Nya. Namun, ada yang menarik... dalam kitab “al-Hikmah al-Khalidah”, karya Ibnu Miskawaih (teosuf Islam klasik setelah Rabiah). Dikatakan dalam kitab itu; “Surga adalah hijab (penghalang) yang paling besar bagi ‘arifin (para bijak bestari).” Ditanya kenapa? Ibnu Miskawaih menjawa...