innalilahi wa inna ilahai Raji'un Dalam sambutan KH Faizin Abu Khumairi atas nama mewakili keluarga almarhumah mengucapkan terimakasih kepada seluruh handai taulan yang sudah berkenan hadir dalam acara pemakaman ibu nyai Hajjah rohati ini. Dan Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat yg telah membantu dari segala aspek atas kelancaran prosesi pemakaman. Atas nama Shohibul musibah minta maaf dan doa restu semoga almarhumah termasuk min ahlil Jannah serta dari pihak Keluarga bisa mengamalkan amal keshobaran atas peristiwa yang tertimpa pada saat ini. Semoga semua amal diterima di sisi Allah dan Semua dosanya diampuni oleh Allah SWT Ibu nyai Hajjah rohati merupakan sosok yang Ta'at dan tekun ibadah, hal ini terbukti anak turunanya menjadi org yg Sholeh ada yang menjadi kyai dan Bu nyai. Semoga min ahlil Khoir dan diterima oleh Allah SWT.
PERJUANGAN K.H. AHMAD RIFA’I
a.
Mendirikan Lembaga Pendidikan
K.H.
Ahmad Rifa’I mendirikan lembaga pendidikan pondok pesantren di Kalisalak
Kabupaten Batang Jawa Tengah, sekarang termasuk Kecamatan Limpung. Metode
pengajarannya menggunakan terjemahan Bahasa Jawa dengan tujuan agar lebih muda
memahami ajaran islam dan segera dapat diamalkan.
b.
Tabligh Agama Keliling
K.H.
Ahmad Rifa’I serlain mengajar di pondok pesantrennya, juga melakukan tabligh ke
beberapa daerah di Jawa Tengah, diantaranya di Kendal, Semarang dan Wonosobo.
K. H. Muhammad Asiri menyebutkan bahwa K.H. Ahmad Rifa’I melakukan dakwah
hingga ke Jawa Barat yaitu di Indramayu Cirebon.
c.
Penulis Kitab
Kemampuan K.H. Ahmad Rifa’I dalam menyampaikan
ajaran islam dengan menggunakan bahasa yang sederhana tanpa memakai idiom-idiom
Bahasa Arab. Hampir seluruh kitab yang ditulis menggunakan huruf Arab berbahasa
Jawa (Pigon) serta menggunakan puisi Tembang Jawa (Nadham) dan tersusun dalam
empat baris , setiap satu bait dengan bunyi akhiran yang sama.
Kitab-kitab
karya K.H. Ahmad Rifa’I disebut kitab-kitab tarajumah
yang ditulis dengan menggunakan tinta warna hitam dan merah. Tinta merah
digunakan untuk bagian awa dan bagian akhir kitab dan juga untuk menulis
bagian-bagian kitab yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an, Al Hadits dan
pendapat para ulama serta masalam-masalah yang dianggap penting.
Selama
dalam kurun waktu 22 tahun (1252-1275 H/1837-1859 M) K.H. Ahmad Rifa’I mampu
menulis kitab sebanyak lebih dari 60 judul, 500 tanbih dan beberapa nadhom
do’a.
Usaha
menulis kitab-kitab dalam Bahasa Jawa ini dikandung maksud agar orang awam
dapat lebih muda dalam memahami ajaran Islam, sebagaimana disebutkan dalam
kitabnya Riayatul Himmah :
supoyo
wong jawi akeh ngerti pitutur
saking qur’an lan kitab arab jujur
kaduwe wongng awam enggal ngerti
milahur
ningali kitab tarajumah jawi pitutur
d.
Gerakan Protes K.H. Ahmad Rifa’I terhadap Pemerintah
Hindia-Belanda
Gerakan
protes K.H. Ahmad Rifa’I terhadap
pemerintah Hindia-Belanda dan birokrat tradisional dilakukan melalui penggalan
para pengikutnya yang sudah banyak mengikuti ajaran islam. Gerakan protes ini
sudah dimulai sejak K.H. Ahmad Rifa’I tinggal di Kendal yaitu dengan cara
menanamkan sikap anti-kolonialisme dan haram taat kepada Raja Kafir.
Protes
K.H. Ahmad Rifa’i dituangkan dalam
bentuk syair di temukan hampir di seluruh kitabnya, tetapi yang paling banyak
ada didalam kitab Tariqoh, Nadzam
Wiqoyah, Bayan, Tafriqoh, Abyanal Hawaij, Tasyrihatal Muhtaj dan Riayatul
Himmah. Dalam doktrin protesnya, K.H. Ahmad Rifa’I mendasarkan pada argumen
bahwa Belanda itu adalah penjajah dan Belanda adalah orang Kapir. Oleh karena
itu kepada segenap santri dan
masyarakatnya dihimbau agar berjuang menyelamatkan tanah dan Agama Islam dari
penjajahan Raja Kapir.
Dalam
kitab Nadzam Wiqoyah disebutkan :
Selamete dunyo akhirat
wajib kiniro
Ngelawan raja kafir
sekuasane kafikiro
Tur perang sabil luwih
gedene ukuro
Kacukupan tan kanti
akeh bala kuncoro
Juga
ditulis dalam kitab Syarihul Iman sebagai berikut :
Alim sholeh milih
angger tinemu merdeko
Senadiyan disengitono
dene wong durako
Tinimbang kumpul karo
wong celoko
Tumekane bisa kacegur
maring neroko
Mukmin bungkuk utomo
nandur jagung
Tinimbang mukmin
bungkuk ngawulo tumenggung
Alim sholeh milih
merdeko ingkang agung
Agawe kutho daerah yen
biso langsung
Doktrin tersebut
diajarkan terus-menerus sehingga tertanam kebencian masyarkat terhadap
pemerintah kolonial belanda serta mendorong dan membangkitkan semangat untuk
menentang dan anti pati terhadap semua kebijakan pemerintah Kolonial beserta
lembaganya.

Asikni kalo diaiakusikan menjadi gak yang lebih praktis teknis pelaksanaan dalam kehidupan kesehatan dan kelompok.
ReplyDeleteBiar tidak menjadi arsib bisu dalam jenengan kisah heroik.
Dari orang awam.
iya pak suprihan
Delete