innalilahi wa inna ilahai Raji'un Dalam sambutan KH Faizin Abu Khumairi atas nama mewakili keluarga almarhumah mengucapkan terimakasih kepada seluruh handai taulan yang sudah berkenan hadir dalam acara pemakaman ibu nyai Hajjah rohati ini. Dan Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat yg telah membantu dari segala aspek atas kelancaran prosesi pemakaman. Atas nama Shohibul musibah minta maaf dan doa restu semoga almarhumah termasuk min ahlil Jannah serta dari pihak Keluarga bisa mengamalkan amal keshobaran atas peristiwa yang tertimpa pada saat ini. Semoga semua amal diterima di sisi Allah dan Semua dosanya diampuni oleh Allah SWT Ibu nyai Hajjah rohati merupakan sosok yang Ta'at dan tekun ibadah, hal ini terbukti anak turunanya menjadi org yg Sholeh ada yang menjadi kyai dan Bu nyai. Semoga min ahlil Khoir dan diterima oleh Allah SWT.
Kenapa harus full day school Pak Menteri Muhajir Effendi?
(mari bergerak demi tpq madin,mi, mts, smk, MA, anak-anak Rifa'iyah) q
Masih terjadi disparitas dan ketidakadilan yang menonjol antara sekolah negeri dan swasta, Guru PNS dengan Guru Non PNS, Sekolah di Kota dan di Desa apalagi di wilayah Terpencil, Terluar dan Tertinggal (3T). Belum lagi yang dialami oleh Madrasah Formal (RA, MI, MTs dan MA), Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah Takmiiyah (MDT) dan Taman Pendidikan A-Quran. Negara nyaris tak berdaya menindak sekolah-sekolah yang membisniskan pendidikan dengan biaya yang sangat mahal. Kondisi ini harus dirubah dengan cara negara wajib menyenggarakan pendidikan secara equel (setara) dan adil.
Para siswa kita baru sedikit yang bisa bersaing dengan anak bangsa lain di dunia juga para guru masih belum berhasil menjadikan anak-anak Indonesia pinter sekaigus "bener". Indek angka korupsi kita masih tinggi, kekerasan ada dimana-mana. Ini tidak kalah menarik dari pekerjaan merubah orientasi pendidikan nasional.
Guru-guru kita belum sejahtera, masih banyak angka putus sekolah, sekolah dan madrasah bocor, reot dan nyaris roboh. Daya dukung masyarakat untuk teribat membangun sekolah mulai berkurang karena beban hidup yang mendera. Membutuhkan kehadiran negara untuk mengatasi ini semua yang berujung pada perbaikan sarpras pendidikan nasional.
Sementara ketika negara belum berdaya menjadikan anak bangsa ini bermoral, berkarakter dan berakhlak, rakayat sejak sebelum Indonesia merdeka telah ikut ambil bagian melaui mendidik anak bangsa melalui pondok pesantren, MDT dan TPQ secara mandiri tanpa menggantungkan negara. Menurut data EMIS Kementerian Agama (2015) Ada sekitar 29 ribu pondok pesantren dan 4 juta santri, Madrasah Diniyah Takmiliyah berjumlah 76.566 dengan jumlah santri 6 juta orang.
Tiba-tiba Bapak Mendikbud Muhajir Effendi yang terhormat malah menerapkan kebijakan yang secara halus dan pelan-pelan membunuh lembaga keagamaan Islam yang selama ini telah berjasa untuk negeri ini. Selama ini mereka rela berbagi waktu dengan sekolah di sore hari tapi Bapak kini akan mengambilnya. Sementara Bapak belum bisa memenuhi sarana dan prasarana pendidikan di sekolah yang memadahi agar anak-anak senang dan kondussif belajar di sekolahan. Rancang bangun kurikulum yang pas untuk full day school dan dampak pembiayaan bagi orang tua dan sekolah yang di timbulkan. Jadi wajar jika mereka berteriak untuk menuntut haknya yang selama ini mereka berikan ke negara di saat negara alpa dan tidak berdaya. Bagi mereka Pak Menteri telah mengganggu eksistensi Pesantren dan MDT yang jelas-jelas selama ini menjadi bagian penting bagi pengembangan pendidikan keagamaan Islam.
Boro-boro bapak ikut mengembangkan pendidikan yang telah ada sebelum Indonesia merdeka dan telah berkontribusi besar, malah pelan-pelan ingin membunuhnya. Saya jadi ragu bapak yang mungkin tidak memahami historisitas, idiologis dan psikologis pendidikan nasional yang didalamnya adalah pendidikan keagamaan Islam tersebut. Tangani saja hal-hal yang substantif, yang sangat dinanti jutaan murid dan guru di negeri ini, diantaranya sebagaimana yang saya sebut di atas. Bukan malah meresahkan masyarakat dan membikin kegaduhan yang tidak perlu. Keadilan pendidikan adalah PR yang tak kalah menarik untuk bapak selesaikan untuk 3-4 tahun mendatang. Ngampunten dan maturnuwun. (oleh : ruhman basori)
(mari bergerak demi tpq madin,mi, mts, smk, MA, anak-anak Rifa'iyah) q
Masih terjadi disparitas dan ketidakadilan yang menonjol antara sekolah negeri dan swasta, Guru PNS dengan Guru Non PNS, Sekolah di Kota dan di Desa apalagi di wilayah Terpencil, Terluar dan Tertinggal (3T). Belum lagi yang dialami oleh Madrasah Formal (RA, MI, MTs dan MA), Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah Takmiiyah (MDT) dan Taman Pendidikan A-Quran. Negara nyaris tak berdaya menindak sekolah-sekolah yang membisniskan pendidikan dengan biaya yang sangat mahal. Kondisi ini harus dirubah dengan cara negara wajib menyenggarakan pendidikan secara equel (setara) dan adil.
Para siswa kita baru sedikit yang bisa bersaing dengan anak bangsa lain di dunia juga para guru masih belum berhasil menjadikan anak-anak Indonesia pinter sekaigus "bener". Indek angka korupsi kita masih tinggi, kekerasan ada dimana-mana. Ini tidak kalah menarik dari pekerjaan merubah orientasi pendidikan nasional.
Guru-guru kita belum sejahtera, masih banyak angka putus sekolah, sekolah dan madrasah bocor, reot dan nyaris roboh. Daya dukung masyarakat untuk teribat membangun sekolah mulai berkurang karena beban hidup yang mendera. Membutuhkan kehadiran negara untuk mengatasi ini semua yang berujung pada perbaikan sarpras pendidikan nasional.
Sementara ketika negara belum berdaya menjadikan anak bangsa ini bermoral, berkarakter dan berakhlak, rakayat sejak sebelum Indonesia merdeka telah ikut ambil bagian melaui mendidik anak bangsa melalui pondok pesantren, MDT dan TPQ secara mandiri tanpa menggantungkan negara. Menurut data EMIS Kementerian Agama (2015) Ada sekitar 29 ribu pondok pesantren dan 4 juta santri, Madrasah Diniyah Takmiliyah berjumlah 76.566 dengan jumlah santri 6 juta orang.
Tiba-tiba Bapak Mendikbud Muhajir Effendi yang terhormat malah menerapkan kebijakan yang secara halus dan pelan-pelan membunuh lembaga keagamaan Islam yang selama ini telah berjasa untuk negeri ini. Selama ini mereka rela berbagi waktu dengan sekolah di sore hari tapi Bapak kini akan mengambilnya. Sementara Bapak belum bisa memenuhi sarana dan prasarana pendidikan di sekolah yang memadahi agar anak-anak senang dan kondussif belajar di sekolahan. Rancang bangun kurikulum yang pas untuk full day school dan dampak pembiayaan bagi orang tua dan sekolah yang di timbulkan. Jadi wajar jika mereka berteriak untuk menuntut haknya yang selama ini mereka berikan ke negara di saat negara alpa dan tidak berdaya. Bagi mereka Pak Menteri telah mengganggu eksistensi Pesantren dan MDT yang jelas-jelas selama ini menjadi bagian penting bagi pengembangan pendidikan keagamaan Islam.
Boro-boro bapak ikut mengembangkan pendidikan yang telah ada sebelum Indonesia merdeka dan telah berkontribusi besar, malah pelan-pelan ingin membunuhnya. Saya jadi ragu bapak yang mungkin tidak memahami historisitas, idiologis dan psikologis pendidikan nasional yang didalamnya adalah pendidikan keagamaan Islam tersebut. Tangani saja hal-hal yang substantif, yang sangat dinanti jutaan murid dan guru di negeri ini, diantaranya sebagaimana yang saya sebut di atas. Bukan malah meresahkan masyarakat dan membikin kegaduhan yang tidak perlu. Keadilan pendidikan adalah PR yang tak kalah menarik untuk bapak selesaikan untuk 3-4 tahun mendatang. Ngampunten dan maturnuwun. (oleh : ruhman basori)

Comments
Post a Comment