innalilahi wa inna ilahai Raji'un Dalam sambutan KH Faizin Abu Khumairi atas nama mewakili keluarga almarhumah mengucapkan terimakasih kepada seluruh handai taulan yang sudah berkenan hadir dalam acara pemakaman ibu nyai Hajjah rohati ini. Dan Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat yg telah membantu dari segala aspek atas kelancaran prosesi pemakaman. Atas nama Shohibul musibah minta maaf dan doa restu semoga almarhumah termasuk min ahlil Jannah serta dari pihak Keluarga bisa mengamalkan amal keshobaran atas peristiwa yang tertimpa pada saat ini. Semoga semua amal diterima di sisi Allah dan Semua dosanya diampuni oleh Allah SWT Ibu nyai Hajjah rohati merupakan sosok yang Ta'at dan tekun ibadah, hal ini terbukti anak turunanya menjadi org yg Sholeh ada yang menjadi kyai dan Bu nyai. Semoga min ahlil Khoir dan diterima oleh Allah SWT.
oleh : Ahmad Saifullah Ahsa
Memperingati Khaul KH. Ahmad Rifa’i yang ke 147
Kita telah memperingati beberapa kali haul KH. Ahmad Rifa’i yang diselenggarakan di beberapa tempat di Pekalongan. Salah satu fungsi peringatan haul adalah mengingat kembali suri tauladan beliau. Tidak hanya diingat, tetapi bisa menjadi pijakan kerangka berfikir untuk pedoman kita melangkah; bisa juga menjadi kaca bercermin bagi generasi sekarang yang serba kecukupan tetapi perjungannya kehilangan arah dan peluh tak bertenaga.
Kata Rifaiyah membawa makna bahwa kita semua, murid-muridnya adalah pengikut setia KH. Ahmad Rifai yang otomatis adalah peneladan beliau. Tetapi pada kenyataannya kita bukan peneladan. Sedikit gambaran keteladanan beliau kita gambarkan dalam tulisan ini. Itu semua ternyata belum satupun yang melekat dalam diri kita. Maka perlu dipertanyakan, apakah kita benar-benar Rifaiyah, atau sekedar berkedok Rifaiyah.
Bagi sebagian warga Rifa’iyah, KH. Ahmad Rifa’i sebagai guru pencerah di tengah kegelapan, ketika waktu para murid angkatan pertama yang hidup di lingkungan yang sedemikian terjajah. Para alimnya pun kebanyakan adalah fasik dan munafik parah. Mereka ada dengan menetek penjajah. Bahkan sebagi kacung yang memusuhi bangsanya sendiri, demi orientasi duniawiyah.
Sepeninggal Diponegoro, sangat sedikit ulama pejuang yang bisa dipandang bisa melindungi Rakyat. Maka kehadiran KH. Ahmad Rifa’i merupakan anugerah bagi siapapun yang mendambakan panutan, dan ulama pejuang. Strategi KH. Ahmad Rifa’i dalam melawan penjajah berbeda dengan Diponegoro. Diponegoro berjuang melalui perlawanan fisik dengan cara bergerilya. Juga melakukan strategi politik. Hingga timbullah perang Jawa (Java Orloog) yang membuat bangkrut ekonomi Belanda. Tetapi perjuangan fisik ini memang bisa menjadi pukulan telak bagi penjajah, tetapi ia tidak mempunyai kesinambungan hingga sekarang layaknya metode perjuangan ala KH. Ahmad Rifa’i.
KH. Ahmad Rifa’i mempunyai metode perjuangannya sendiri. Beliau memberikan kesadaran kepada rakyat tentang arti pentingnya merdeka, dan hinanya manusia terjajah; mulyanya orang ibadah yang dilandasi ilmu, dan sesatnya manusia ibadah dengan awur-awuran. Penyampaian pencerahannya melalui wadah pondok pesantren dan pengajian keliling, juga beliau menyebarkan virus pencerahan agama dan protes sosial keagamaan yang ditujukan kepada penjajah maupun orang-orang yang berkolaborasi dengan penjajah melalui tulisan yang dihimpunnya menjadi kitab. Untuk diterima di kalangan awam, beliau menulis kitab dengan bahasa Jawa, dengan bentuk syair, hingga bisa didendangkang menjadi tembang sehingga mudah di hafal. Beliau adalah man of letter ungkap Sartono Kartodirdjo
Pejuang Ummat
Sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang menjelang wafatnya membatin umatnya. Dengan ucapan lisannya mengatakan “ummati...ummati...” KH. Ahmad Rifa’i hampir perjuangannya diperuntukkan kepada ummat agar selamat dunia dan akherat. Bagai lentera yang menerangi dalam kegelapan. Secara perlahan KH. Ahmad Rifa’i mengarang kitab dengan bahasa Jawa, sehingga mudah dipahami dan dihafal. Tidak hanya itu saban harinya dihabiskan untuk memberikan pencerahan umat melalui pengajian-pengajian yang diselenggarakan di Pesantren dan keliling perkampungan.
Metode dakwah KH. Ahmad Rifa’i dengan menulis kitab bahasa Jawa di apresiasi Kareel Steenbrink sebagai dakwah yang pas dan satu-satunya, pada medio pertengahan abad 19 an. Waktu, tenaga, harta, pikiran, keluarga diperas habis untuk kepentingan umat. Pernahkah kita mendapatkan informasi bahwa KH. Ahmad Rifa’i sejengkal meluangkan waktu untuk mencari uang? Tentu tak ada waktu baginya untuk mengejar harta. Karena baginya mustakhil manusia sebagai sebaik-baiknya makhluk mengejar benda: harta, kekuasaan, jabatan, dll. Seharusnya uang lah yang mengejar manusia. Sudahkah kita sebagai muridnya meneladani uswatun khasanah beliau.
Penulis Handal
Kita semua sudah mafhum bahwa KH. Ahmad Rifa’i adalah penulis kitab yang jumlahnya mencapai 60 an. Proses penulisan kitab dilakukan ketika kertas masih sangat langka, mungkin di Indonesia belum ada pabrik kertas. Kertas merupakan selembar barang monopoli pemerintahan Hindia Belanda. Apalagi ketika KH. Ahmad Rifa’i di Kalisalak, yang merupakan daerah terpencil dalam pengawasan pemerintah penjajah. Tentu mustahil kalau beliau dapat mengakses kertas. Menurut teman saya yang belajar di jurusan Sejarah, mungkin waktu itu kertas di dapat dari selundupan yang asal muasalnya dari Cina. Kalau memang benar, ini usaha yang luar biasa. Juga kita mengingat bahwa penulisan sangat mungkin dilakukan pada siang hari, karena bisa dibantu oleh cahaya matahari. Sedang menulis pada malam hari sangat melelahkan mata, mengingat lampu sentir yang apinya sayu-sayu menyala dan cahayanya pun tak bisa diam karena terpaan angin. Dengan keterbatasan itu beliau mampu menulis puluhan kitab, sedang kita yang mengaku murid beliau cuma lihai menulis SMS. Anehnya lagi kita semua tidak gelisah dan berusaha untuk mengikuti jejak beliau sebagai penulis. Ini dibuktikan dengan tak adanya pelatihan-pelatihan menulis, terutama di lembaga pendidikan Rifa’iyah.
Mujtahid
Kita juga sepakat bahwa KH. Ahmad Rifa’i bukan pembeo pemikiran. Ketika banyak ulama berpendapat bahwa rukun Islam itu lima. KH. Ahmad Rifa’i berfikir bahwa rukun Islam hanya satu. Ketika orang lain belum berfikir tentang dakwah yang pas untuk masyarakat, KH. Ahmad Rifa’i sudah melakukannya. Tapi kita semua layaknya photo copy yang pandai mengutip pendapat ulama anu, dan takut mengeluarkan pendapatnya sendiri. Jadi, otaknya banyak yang masih asembling, karena tak pernah memproses sesuatu untuk dipikirkan. Bahkan untuk memutuskan masalah air saja seseorang sangat minder kalau tak mbuntut pendapat ulama yang wafat pada ribuan tahun lalu.
Budaya mbuntut ini sangat parah, karena dilandasi rasa fanatik seseorang kepada pendapat madzhab, ulama, kiai tertentu, dan menyalahkan pemikiran dan pendapat lainnya. Para photo copy ini bisa dilihat dalam pagelaran mauidloh hasanah. Para dai layaknya talang yang cukup mengantarkan air hujan dawuh, sabda, fatwa sampai ke tanah pendengaran para hadirin. Mereka bukan layaknya pohon yang memproses air menjadi buah-buahan, daun, batang, yang semuanya bermanfaat secara lebih nikmat dan langgeng. KH. Ahmad Rifai adalah pemikir, sedang kita adalah obyek pemikiran. Hingga ikut arus dan hanyut terbawa arus.
Mujahid
KH. Ahmad Rifai seorang pejuang. Beliau berjuang memberi pencerahan tentang arti penting melawan penjajah dan para inlander yang nyusu kepada penjajah. Salah satu syairnya agitasinya berbunyi mukmin kekasab nenandur jejagung / iku luwih becik tinimbang ngawulo tumenggung. Mukmin kekasab nenandur ketela / iku luwih becik tinimbang ngawula londo (mukmin yang bekerja menanam jagung / itu lebih baik daripada penghamba penguasa. Mukmin bekerja menanam ketela / itu lebih baik daripada penghamba penjajah.

Comments
Post a Comment