innalilahi wa inna ilahai Raji'un Dalam sambutan KH Faizin Abu Khumairi atas nama mewakili keluarga almarhumah mengucapkan terimakasih kepada seluruh handai taulan yang sudah berkenan hadir dalam acara pemakaman ibu nyai Hajjah rohati ini. Dan Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat yg telah membantu dari segala aspek atas kelancaran prosesi pemakaman. Atas nama Shohibul musibah minta maaf dan doa restu semoga almarhumah termasuk min ahlil Jannah serta dari pihak Keluarga bisa mengamalkan amal keshobaran atas peristiwa yang tertimpa pada saat ini. Semoga semua amal diterima di sisi Allah dan Semua dosanya diampuni oleh Allah SWT Ibu nyai Hajjah rohati merupakan sosok yang Ta'at dan tekun ibadah, hal ini terbukti anak turunanya menjadi org yg Sholeh ada yang menjadi kyai dan Bu nyai. Semoga min ahlil Khoir dan diterima oleh Allah SWT.
1.
Iman
menurut syekh Ahmad Rifa’i
Bebrapa perso’alan
yang muncul dari masalah iman ini antara lain ada 3 yaitu (1) unsur-unsur iman,
(2) iman bertambah atau berkurang, dan (3) perlu dan tidak nya menyertakan akal
dalam iman. Terhadap perso’alan pertama, Rifa’i mengkaitkannya dengan masalah
syarat sahnya iman dalam arti elemen yang harus ada bagi sahnya iman seseorang.
|
Utawi syarat sahe iman jujur
Iku masrahaken sariro milahur
Lan anut asih ing syara’ pitutur
Sekodar sakuasane tan nejo mungkur
|
Adapun syarat sahnya iman jujur
Yaitu memasrahkan badan disertai
kepatuhan
Dan mengikuti syara’ nasihatnya
Sekadar menurut kekuatan tidak
bermaksud ingkar[1]
|
|
Wajib nyoto sahe iman kang becik
Munfa’at akhirat gedhe bekjo
katilek
Ikilah kalam ulama’ di isik-isik
Al imanu fi al lughoti at tasdiq
Iman dalem lughoh ngisto’aken ing
manah
|
Wajib nyata sahnya iman yang baik
Manfa’at akhirat besar untungnya
Itulah kalam ulama’ di perhatikan
Iman secara harfiah adalah
Pembenaran dalam hati.[2]
|
Pandangan ini
memperlihatkan bahwa unsur iman itu pembenaran dalam hati dan ditindaklanjuti
sikap pasrah dan keta’atan pada aturan agama. Dengan kata lain, orang tidak
bisa disebut “beriman” jika hanya membenarkan dalam hati sementara tidak
memiliki keta’atan pada aturan agama. Perbuatan menjadi bukti keimanan
seseorang.
Kedua, yakni
bertambah atau berkurangnya iman, Ahmad Rifa’i berada dalam posisi yang dekat
dengan pemikiran imam Ghozali. Menurut imam Ghozali, iman seseorang bisa
bertambah dan berkurang sesuai dengan perilaku yang di tampilkannya. Bertambah
karna keta’atannya, berkurang karna kemaksiatannya. Namun demikian, imam
Ghozali tidak sependapat bahwa amal merupakan unsur iman sehingga jika tidak
ada amal maka tidak ada iman. Begitu pula dengan Al-Asy’ari.[3]
Meskipun ada unsur persama’an dengan tokoh-tokoh sunni, namun rumusan Ahmad
rifa’i lebih lugas. Ia menyatakan bahwa iman seseorang mengalami pasang surut
karena amalnya. Dan amal ini bukan sekedar unsur pelengkap saja, tetapi amat
menentukan dan bahkan dapat membatalkannya. Beliau menyatakan :
|
Batale iman rong
perkoro tinamune
Kangdihin mamang tan
jazem pangestune
Ing satengahe
agamane allah salah suwijine
Kapindo iku sengit
ing dalem atine
Ing salah sijine
satengah agamane allah
Kang didatengaken
dene rasul winarah
|
Batalnya iman ada 2
perkara
Yang pertama ragu
hatinya dan tidak teguh
Pada agama Allah
yang satunya
Yang kedua benci
hatinya
Pada salah satu
ajaran agama Allah
Yang di datangkan
oleh rasulnya[4]
|
|
Utawi iman iku limo
kinawaruhan
Imam matbu’ sekeh
malaikat kelakuhan
Iman ma’shum kaduwe
nabi kaparcaya’an
Rinekso Nabi sakeng
rusake iman
|
Adapun iman itu
diketahui ada 5
Iman matbu’ untuk
semua malaikat
Iman maksum bagi
nabi yang dipercaya
Dijaga Nabi dari
rusaknya iman[5]
|
Dua kategori
iman ini adalah iman yang tidak bisa diupayakan oleh manusia, karena ada
hak-hak khusus yang dimiliki oleh malaikat dan rasul. Iman malaikat ya’ni
matbu’, sedangkan bagi Rasul itu imannya ma’shum.[6] Bagi
orang islam maka iman mereka itu ada 3 macam, iman makbul (imannya orang mukmin
yang lurus hatinya dan mengetahui syarat sahnya iman serta menjaga dari
perbuatan fitnah), iman mauquf (imannya orang islam yang hanya ikut-ikutan saja
sehingga masih serampangan) , dan iman mardud (imannya orang yang tidak dapat
diterima, yaitu imannya kafir munafik).
Komentar Ahmad
Rifa’i terhadap perso’alan ketiga, yakni perlu dan tidaknya menyertakan akal
dalam keimanan, mencerminkan corak pemikiran yang secara global memiliki
kesesuaian dengan pandangan Asy’ariyah. Hal ini tampak dalam kitab Ri’ayah
al-himmah
.

Comments
Post a Comment